Sumatra Utara, Dilema Antara Mendapatkan Pemimpin Atau Pesuruh

0
Foto: Ilustrasi

InfoSumutNews.com– Kali ini tulisan kembali dikirimkan oleh netizen yang setia dengan ISU, Netizen ini mengirimkan artikel kembali tentang kepemimpinan ” Good Driver& Bad Driver ” anda ingin tahu apa maksud dari artikel good driver ini ? mari kita baca sampai habis.

Secara nasional kita ketahui bersama bahwa sejak era reformasi pertama kali indonesia sudah dipimpin oleh beberapa presiden. Kita ketahui bersama bahwa transisi dari orde baru menuju reformasi dimulai dari saat BJ Habibie diangkat menggantikan Soeharto sebagai presiden negeri ini, selepas pemilu 1999 terpilihlah gusdur sebagai presiden republik ini yang tak lama menjabat kemudian lengser dan digantikan oleh wakilnya yaitu megawati

Tahun 2004 dalam pemilihan presiden, megawati sebagai inkumben tersingkir oleh pasangan susilo bambang yudhoyono dan jusuf kalla, waktu itu kita juga disuguhkan oleh drama politik yang seru dimana dalam masa kepemimpinan lima tahun tersebut disebutkan ada dua matahari dalam pemerintahan, kemudian di 2009 SBY menjadikan budiono sebagai wakilnya hingga 2014, dan setelah itu dimulailah pemerintahan jokowi yang banyak diwarnai oleh drama kelucuan dan penurunan nalar bagi sebahagian masyarakat

Sebuah buku dari profesor Rhenald kasali menyatakan bahwa seorang pemimpin dapat dikategorikan sebagai “good driver” atau “bad driver”, dari buku tersebut dapat kita tarik kesimpulan bahwa suatu organisasi dengan penumpang yang baik namun dipimpin oleh pengemudi yang buruk tak akan pernah berhasil mencapai tujuan dengan baik

Konteks kekinian pada proses pilkada 2018 khususnya untuk daerah sumatera utara yang akan dilaksanakan pada tanggal 28 juni 2018 ini adalah bagaimana kita akan memilih pemimpin dengan katagori “good driver” dari pilihan yang ada sesuai dengan keputusan komisi pemilihan umum.

Ciri kepemimpinan yang disebutkan dalam buku tersebut adalah BERANI mengambil resiko. Jika dilihat dari dua kandidat yang ada maka seperti kita ketahui bahwa letjend (purn) TNI edy rahmayadi sudah dari jauh hari memutuskan untuk mengikuti pilkada sumatera utara bahkan dengan berani mengambil langkah pensiun dini dari institusi TNI padahal saat itu dirinya masih menjabat pangkostrad dan berpeluang besar menjadi jenderal bintang empat dengan jabatan KASAD, namun kecintaannya pada daerah yang membesarkannya membuat dirinya mengambil keputusan yang sulit tersebut

Kandidat lain yaitu djarot syaiful hidayat berbeda sangat jauh keadaannya. Djarot sebelumnya tak pernah disebut namanya pada proses pilkada sumatera utara tapi sejak dipanggil oleh ketua umum PDI perjuangan dan ditugaskan sebagai kader partai untuk ikut dalam perebutan kursi kepala daerah sumatera utara barulah djarot turun dan melakukan sosialisasi di sumatera utara

Dalam perspektif seorang ‘driver’ yang mampu menjadi pemimpin maka apakah rakyat sumatera layak untuk memilih seorang calon pemimpin untuk daerahnya yang bukan dari keputusan dirinya sendiri melainkan keputusan seorang ketua partai ?

Sisi lain dari pilkada kali ini adalah opini bahwa gubernur dari sumatera utara cenderung melakukan korupsi dan hal ini selalu disuarakan kepada masyarakat luas. Persoalan mendasar kalau kita mau jujur melihatnya adalah bukan karena asal daerahnya namun korupsi terjadi karena adanya kesempatan dan lingkungan yang mendukung serta pemimpin yang tidak punya pendirian

Masyarakat sumatera utara sudah pastilah mampu melihat mana pemimpin yang berkarakter dan berani ambil resiko serta berkomitmen untuk memajukan daerah ini sehingga tidak salah dalam memilih. Pilihan yang ada menyuguhkan kandidat calon gubernur yang tidak punya track record korupsi bahkan isunya saja tak terdengar seperti letjend (purn) TNI edy rahmayadi versus djarot syaiful hidayat yang isu korupsinya bahkan sudah tersebar di media media nasional dan sudah ada kabar bahwa akan dipanggil pihak kepolisian menyangkut kepemimpinannya selama tiga bulan sewaktu menjabat gubernur DKI jakarta ketika menggantikan ahok. Pemilih cerdas akan menentukan nasib sumatera utara lima tahun mendatang apakah akan kembali mempunyai pemimpin yang buruk atau pemimpin yang mampu men “drive” sumatera utara menjadi jauh lebih baik dan menjadi provinsi nomor satu dalam pertumbuhan ekonomi diluar pulau jawa.

Iqbal Nasution.

Baca Juga: Ciri-Ciri Pemimpin Yang Kriterianya cocok untuk Sumut

TINGGALKAN KOMENTAR