Perlukah Imunisasi MR ?

0
pertanyaan rubella

InfoSumutNews.com– AGUSTUS dan September 2018 ini dijadwalkan pelaksanaan imunisasi Measles Rubella (MR) bagi luar Pulau Jawa, termasuk Aceh. Di Pulau Jawa sudah berlangsung pada bulan Agustus dan September 2017 tahun lalu. Imunisasi adalah suatu upaya untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Tujuan imunisasi MR ini adalah meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap penyakit campak dan rubella secara cepat; memutuskan transmisi (penularan) virus campak dan rubella; menurunkan angka kesakitan akibat penyakit campak dan rubella; serta menurunkan angka kejadian sindrom rubella kongenital atau CRS (Congenital Rubella Syndrome).

Vaksin MR ini merupakan vaksin yang baru digunakan di Indonesia dan disubsidi oleh pemerintah, yang berarti diberikan secara gratis kepada masyarakat. Vaksin ini untuk mencegah penyakit measles (campak) dan Rubella. Penyakit campak disebabkan oleh virus morbili dengan gejala demam tinggi beberapa hari, disertai batuk dan pilek, juga mata memerah.

Selanjutnya diikuti dengan munculnya ruam kemerahan mulai dari leher dan wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Demam kemudian akan turun setelah ruam merah memenuhi badan. Ruam akan menghilang pelan-pelan dan tanpa bekas. Penyakit campak ini bisa menimbulkan komplikasi berupa radang paru, radang otak, radang telinga, diare, dan dehidrasi, serta berisiko kematian.

Gejala penyakit Rubella hampir sama dengan campak, akan tetapi jauh lebih ringan. Malah pada 50% kasus rubella tidak menunjukkan gejala. Akan tetapi tingkat penularannya sangat tinggi. Sama halnya dengan penyakit campak, virus rubella ini menular lewat saluran pernafasan, melalui percikan dahak atau bersin. Namun apabila virus rubella ini menyerang ibu hamil, maka efeknya sangat berat. Si Ibu bisa mengalami keguguran ataupun bayi yang dilahirkan bisa mengalami kecacatan.

Kecacatan yang timbul ini bisa berupa penyakit jantung bawaan (bocor jantung), kerusakan jaringan otak yang bisa menyebabkan kelumpuhan ataupun retardasi mental, katarak kongenital (terdapat selaput putih di lensa mata), dan gangguan pendengaran atau tuli. Kondisi begini yang dinamakan dengan CRS.

Beban yang harus ditanggung bila ada penderita CRS ini sangatlah besar. Bila terjadi katarak kongenital harus dilakukan operasi dan menggunakan kacamata sejak bayi. Ketulian yang terjadi perlu dilakukan operasi dan implantasi alat bantu dengar. Kerusakan jaringan otak menyebabkan keterlambatan tumbuh kembang sehingga diperlukan fisoterapi seumur hidup. Kelainan jantung harus menjalani operasi jantung. Selain dibutuhkan biaya ratusan juta juga beban nonmaterial seumur hidup bagi orang tua.

Masih diperlukan
Sampai saat ini program imunisasi masih diperlukan, karena menurut data dari UNICEF bahwa setiap tahunnya ada 1,5 juta bayi/anak yang meninggal, disebabkan penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi. Dan kalau ditanyakan apakah vaksin MR ini perlu? Jawabannya adalah sangat perlu untuk negara kita Indonesia. Indonesia merupakan 1 dari 6 negara prioritas dengan jumlah anak tidak/belum diimunisasi terbesar di dunia.

Indonesia masuk ke dalam 10 negara dengan kasus campak terbesar di dunia. Jumlah kasus campak 2010-2015 sebesar 23.164 kasus. Jumlah kasus rubella 2010-2015 sebesar 30.463 kasus dan jumlah kasus CRS pada 2013 sebesar 2.767 kasus. Secara global menargetkan eliminasi Campak dan Rubella pada 2020, dan Indonesia telah berkomitmen untuk mencapai eliminasi campak dan pengendalian Rubela/CRS pada 2020.

Menurut data WHO (2014) bahwa peningkatan kematian karena campak disebabkan karena meningkatnya sikap antivaksin. Kematian global akibat campak meningkat pada 2012-2013 dari 122.000 menjadi 145.000. Dua penyebab utama yaitu resesi global dan ketakutan pada vaksin. Resesi global berupa kondisi kurang dana untuk imunisasi dan kampanye. Di Amerika Serikat didapatkan 603 kasus campak, tertinggi dalam 20 tahun, juga disebabkan karena meningkatnya sikap antivaksin. Di antara 90% individu yang tidak kebal (tidak mendapat vaksin) akan tertular jika terpapar virus campak.

Target pemberian vaksin MR ini adalah mulai bayi usia 9 bulan sampai anak usia 15 tahun. Pelaksanan pemberian vaksin MR ini akan dilakukan dua tahap. Pada bulan Agustus pelaksanaan dilakukan di sekolah sekolah seluruh Aceh, mulai dari PAUD, TK, SD dan SMP. Sedangkan pada September target penerima vaksin MR adalah bayi atau anak yang belum/tidak sekolah. Nantinya setelah pelaksanaan imunisasi program ini, pada Oktober tidak ada lagi vaksin campak tapi sudah berganti dengan vaksin MR dengan jadwal pemberian yang sama, yaitu usia 9 bulan, 18 bulan dan saat kelas 1 SD.

Baca Juga: Ternyata Penyakit Rubella Dapat Menggugurkan kehamilan dan Cacat Pada Bayi di Lahirkan

Miris, setiap pemerintah menjalankan imunisasi program, maka terlihat pula semakin gencarnya penolakan dari para antivaksin. Yang memprihatinkan adalah mereka dengan gencar menyebarkan berita sesat seputar imunisasi dan kemudian ditelan bulat-bulat oleh masyarakat, tanpa mencari tahu sumbernya valid atau tidak. Isu yang masih sangat gencar dihembuskan adalah ketidakhalalan vaksin termasuk vaksin MR ini. Padahal bila kita melihat kandungan dari vaksin MR ini sama sekali tidak menggunakan bahan yang haram dalam arti sama sekali tidak bersinggungan dengan enzim babi, seperti informasi yang disebarluaskan.

Kandungan vaksin MR, yaitu berupa virus campak Edmonston-Zagerb 1000 CCID 50, dan virus Rubella Wistar RA27/3 1000 CCID50, serta water for injection. Jadi murni kandungannya adalah virus campak dan rubella yang sudah dilemahkan. Vaksin MR ini sudah lama sekali dipakai oleh negara-negara lain termasuk juga negara Islam seperti Saudi Arabia, Qatar, Mesir, Oman, Pakistan, Sudan dan lain-lain. Di negara tersebut malah sudah menggunakannya sejak 1970-an, yang berarti lebih dari 40 tahun lalu.

Sangat jelas
Landasan hukum pelaksanaan imunisasi di Indonesia sudah sangat jelas. Ada UUD 1945 Pasal 28B ayat (2): Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pasal 28H ayat (1): Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir & batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik, sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

Kemudian UU Perlindungan Anak No.35 Tahun 2014 berbunyi, “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.”

Selanjutnya UU Kesehatan No.36 Tahun 2009 berisikan, “Setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dg ketentuan utk mencegah terjadinya penyakit yg dapat dihindari melalui imunisasi dan Pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak”. Serta UU Pemerintahan Daerah No.23 Tahun 2014 bahwa Pemerintah Daerah harus memperioritaskan Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar dengan berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

Apabila masih ada masyarakat yang mempersoalkan tentang kehalalan vaksin maka bisa merujuk pada Fatwa MUI No.4 Tahun 2016 yang menyebutkan bahwa imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya penyakit. Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib.

Berkaitan dengan pelaksanaan imunisasi MR ini, Komisi Fatwa MUI pada Juli 2017 juga sudah mengeluarkan rekomendasi kepada Kemenkes bahwa penyelenggaraan imunisasi, termasuk imunisasi MR adalah satu bentuk ikhtiar dalam mengantisipasi dampak negatif penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Jadi rasanya sudah sangat jelas bagi orang tua untuk mengikuti pelaksanaan imunisasi MR ini. Manfaat yang didapatkan jauh sangat besar. Jadi, jangan ragu lagi ya Ayah/Bunda!

* dr. Aslinar, Sp.A, M.Biomed., Sekretaris Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Aceh, dan Ketua Pokja KIPI Aceh Besar.

 

TINGGALKAN KOMENTAR