Mengenal Sejarah Bubur Asyura, Kuliner Wajib Saat Bulan Muharram

0
pinterest.co.uk

Infosumutnews.com – Bicara soal bulan Muharram, tentu tak bisa lepas dari ibadah puasa Asyura yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram yang jatuh pada tanggal 20 September 2018. Bagi umat Islam, puasa sunah ini sendiri dianggap sangat istimewa, karena dipercaya mampu menghapuskan dosa setahun lalu.

BACA JUGA : Kebiasaan Harian ini Bikin Daya Ingat “Jongkok”

Nah, ada satu kuliner spesial yang biasanya dihidangkan khusus untuk berbuka saat puasa Asyura, yakni bubur Asyura seperti yang dikutip dari idntimes.com.

Di berbagai daerah di Indonesia, bubur Asyura biasanya akan dimasak dalam porsi yang besar dan dibuat bergotong-royong oleh warga desa. Lalu, seperti apa sih sejarah Bubur Asyura? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

1. Berawal dari perjuangan Nabi Muhammad SAW saat perang Badar

Ada beberapa versi yang menjelaskan tentang asal-usul bubur Asyura. Salah satunya berawal dari perjuangan Nabi Muhammad SAW saat perang Badar.

Dikisahkan, usai perang Badar, jumlah prajurit Islam menjadi semakin banyak. Saat itu, ada seorang sahabat nabi sedang memasak bubur. Namun sahabat tersebut tak mengira ternyata porsi bubur yang ia masak tak sebanding dengan jumlah prajurit yang harus diberi makan.

Rasulullah akhirnya memerintah para sahabat untuk mengumpulkan bahan makanan apa saja yang ada agar dicampurkan ke bubur yang telah dimasak, dengan tujuan supaya porsi semakin banyak dan cukup untuk makan para prajurit.

Peristiwa ini pun menjadi tradisi yang terus menerus dilakukan oleh umat Islam, dalam rangka menyemarakkan keistimewaan bulan Muharram.

2. Versi kisah Nabi Nuh saat turun dari kapal setelah banjir bandang

Versi lain menyebutkan, tradisi memasak Bubur Asyura berawal dari peristiwa penting saat Nabi Nuh turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang.

Saat pertama kali menyentuh daratan, Nabi Nuh memerintahkan umatnya untuk mengumpulkan semua sisa perbekalan selama berlayar. Kemudian, ia memerintahkan agar semua sisa bekal itu dicampur dan diaduk menjadi adonan bubur.

Bubur itulah yang kemudian disedekahkan kepada semua orang yang selamat dari bencana banjir bandang kala itu.

3. Di Indonesia menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi

Tradisi memasak bubur Asyura setiap tanggal 10 Muharram memang masih terus dipertahankan di berbagai daerah di Indonesia. Momen ini menjadi semakin spesial, karena bubur akan dimasak secara bergotong-royong oleh masyarakat.

Tak heran momen memasak bubur Asyura ini pun menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga dan menumbuhkan jiwa sosial. Memasak bubur Asyura sendiri sebenarnya sama seperti memasak bubur pada umumnya. Hanya saja, bahan yang dicampur biasanya dilengkapi hingga 41 jenis bahan dan rempah-rempah, seperti sayur, kacang-kacangan, daging, hingga telur.

Nah, kamu sudah pernah cobain belum? Kalau di tempat tinggalmu, masih ada tradisi ini gak nih?

TINGGALKAN KOMENTAR