Ramuan Dukun di Kampung Kanibal Huta Siallagan

0
Inilah Huta Siallagan, Siallagan-Pindaraya, Kecamatan Simanindo, Ambarita, Simanindo, Kabupaten Samosir

Infosumutnews.com – Hukum pancung di kampung ini dibuat sedemikian dramatis. Diawali ramuan dukun, berakhir dengan raja serta panglima memakan hati, jantung, dan darah penjahat.

BACA JUGA : Hati-Hati, Ternyata Penyakit “Nafsu Cepat Puas ” Dapat Membuat Prestasi anda Stagnan

Begitulah kisah pada zaman dahulu yang dikutip di beritagar.id. Hukuman terberat bagi para pelaku kejahatan di tanah Batak adalah pancung. Bahkan ada cerita bahwa hati dan jantung si pesakitan akan dimakan oleh raja atau para tetua lainnya untuk menambah kesaktian.

Itulah sekilas cerita dari kampung kanibal yang pernah berada di Huta Siallagan daerah Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir, Danau Toba, Sumatra Utara.

Huta dalam bahasa Batak artinya kampung sedangkan Siallagan diambil dari nama Raja Siallagan. Area kampung ini dibangun oleh keluarga Batak bermarga Siallagan, lalu dipimpin oleh Raja Siallagan.

Jika naik mobil dari daerah Tuktuk Siadong, lokasi ini berjarak sekitar empat kilometer dengan waktu tempuh 10-15 menit saja. Masuk ke Huta Siallagan cukup membayar tiket Rp5 ribu.

Deretan rumah bolon, atau rumah adat Batak, tampak menghiasi kawasan tersebut. Bila diperhatikan, bagian depan rumah terdapat beberapa ornamen khas, yaitu jaga dompak (topeng dengan ekspresi menakutkan), singa-singa (patung kepala singa), patung cecak, dan lambang payudara.

Parisian Sitinjak, pemandu wisata di Huta Siallagan menjelaskan bahwa ornamen tersebut bukan hanya untuk memperindah rumah, tetapi memiliki makna tersendiri.

Jaga dompak dan singa-singa berfungsi untuk menangkal roh jahat. Zaman dahulu, kepercayaan magis orang Batak sangat kuat sehingga kedua ornamen dibutuhkan sebagai penangkal agar kejahatan tidak bisa masuk ke dalam rumah.

Sedangkan cecak yang disebut boraspati merupakan hewan yang bisa hidup di mana-mana, baik itu di rumah mewah dan di rumah sederhana. Intinya, ia melambangkan orang Batak yang juga bisa hidup di mana-mana.

Payudara melambangkan simbol kekayaan dan orang dermawan yang harus bisa membantu orang lain.

“Ibaratnya seperti ibu yang bisa menyusui anak tanpa imbalan. Bisa juga diartikan sejauh mana pun orang Batak merantau, jangan lupa orangtua dan jangan lupakan kampung halaman,” ujar Parasian.

Simbol payudara di bagian depan rumah berjumlah delapan, artinya empat pasang payudara. Sebab, rumah tersebut biasanya diisi oleh empat keluarga atau ada empat ibu.

Umumnya, rumah memiliki tiga tingkatan, paling bawah atau di kolong rumah panggung untuk hewan peliharaan seperti kerbau atau babi, tingkat dua sebagai tempat tinggal, dan yang paling atas untuk tempat penyimpanan barang. Warna rumah terdiri dari putih, merah, dan hitam.

Atap rumah terbuat dari ijuk dengan belakang yang lebih tinggi dari depan. Maknanya adalah generasi selanjutnya harus lebih baik dan lebih hebat daripada orangtuanya.

Usai melihat bagian depan rumah, saya pun penasaran ingin melihat seperti apa isi dalam rumah. Namun, ada yang tak biasa saat saya naik tangga untuk masuk rumah, yaitu pintu masuk yang sangat rendah sehingga saya harus menunduk.

Rupanya, hal ini memang disengaja. Parisian mengatakan pintu masuk memang dibuat rendah sehingga orang harus menunduk sebagai tanda penghormatan bagi pemilik rumah.

Selain itu, menunduk juga dipercaya bisa melunturkan ilmu hitam. Sehingga niat jahat orang yang akan masuk rumah, misalnya ingin mengguna-guna, takkan kesampaian karena ia mesti menunduk dulu.

Bagian dalam rumah dibuat tanpa sekat dan memang digunakan bersama-sama untuk empat keluarga. Bagian tengahnya terdapat perapian untuk menghangatkan tubuh, juga sebagai tempat memasak. Pembatasan area hanya dilakukan saat tidur, agar masing-masing keluarga mendapat privasi.

Meski tinggal seatap, tiap keluarga tak boleh saling mengganggu atau mengambil istri orang lain karena akan mendapat hukuman dari raja, yaitu pemenggalan kepala. Kesalahan lain yang akan mendapat hukum pancung adalah membunuh, memerkosa, dan menjadi mata-mata musuh.

Sedangkan, kesalahan seperti mencuri bisa diampuni tetapi si penjahat harus membayar denda. Semua kesalahan tentu akan didiskuksikan terlebih dahulu untuk menentukan hukuman yang tepat.

Batu Persidangan

Usai melewati deretan rumah adat, pengunjung akan melihat kursi-kursi dari batu yang membentuk lingkaran. Kursi tersebut akan diduduki oleh raja, tetua kampung, dukun, penasihat, panglima atau hulubalang, dan orang yang bersalah. Di kursi inilah musyawarah dilakukan dan hukuman ditentukan.

Bagi yang terbukti bersalah, akan dipenjara di kolong rumah raja dengan kaki dipasung. Pemasungan ini dilakukan sambil menunggu dukun menentukan tanggal eksekusi.

Tanggal tersebut akan ditentukan dari hari paling lemah si penjahat. Pasalnya, rata-rata orang yang berani melakukan kejahatan diyakini punya ilmu hitam.

Setelah mendapat penjelasan soal batu kursi, saya pun diajak ke area sebelahnya, yaitu tempat eksekusi. Ada rasa ngeri saat melihat tempat pemenggalan kepala. Saya membayangkan bagaimana masyarakat menyaksikan langsung proses pancung pada penjahat zaman dahulu.

Ya, setiap proses hukum biasa disaksikan oleh masyarakat. Hal ini juga dilakukan agar orang-orang takut berbuat jahat.

Hukum pancung dibuat sedemikian dramatis. Pertama, penjahat akan diberi makan yang berisi ramuan dukun untuk melemahkan ilmu hitam, kemudian dipukul menggunakan tongkat tunggal panaluan, yaitu tongkat magis dari kayu berukir gambar kepala manusia dan binatang, dengan bagian atas berupa rambut panjang.

Saat dieksekusi, pakaian penjahat dilepaskan untuk memastikan tidak ada jimat yang masih tersisa. Setelah itu, seluruh bagian tubuh akan disayat-sayat. Jika sudah terluka dan berdarah, bisa dipastikan ilmu hitam yang biasanya membuat orang kebal, telah hilang.

Tak sampai di situ, jika tubuh telah mengeluarkan darah, akan disiram dengan air asam sampai si penjahat semakin lemah. Setelah itu, baru hukum pancung dilakukan.

Kepala dan tubuh si penjahat dibuang jauh-jauh. Bagian tubuh yang diambil hanya hati, jantung, dan darah untuk dimakan raja beserta panglima. Alasan mengapa raja makan itu adalah agar ilmu hitamnya semakin kuat dan menambah kekebalan.

Seluruh kisah penghukuman sadis tersebut akhirnya berakhir pada abad ke-19, saat agama Kristen mulai diperkenalkan oleh misionaris asal Jerman, yaitu Ludwig Ingwer Nommensen.

Kini, hukum pancung dan kisah kanibal tersebut tentu sudah tak berlaku, tetapi ceritanya masih tersimpan rapi di Huta Siallagan. Bila ingin merasakan suasana perkampungan Batak zaman dahulu, Anda bisa datang ke sini.

TINGGALKAN KOMENTAR