Harga Makanan dan Minuman akan Naik Meski Konsumsi Lesu

0
Pedagang menata bahan makanan di Pasar Karet Belakang, Jakarta, Kamis (1/11/2018). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi inflasi pada Oktober 2018 sebesar 3,16 persen (year on year) dan 0,28 persen (month on month) dengan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan yakni 4,38 persen (year on year). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.

Infosumutnews.com – Industri makanan minuman merupakan salah satu industri dengan komponen impor yang cukup tinggi di Indonesia. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, mengatakan, banyak perusahaan yang mulai merasakan dampak pelemahan rupiah.

BACA JUGA : September Ceria, Sharp Gelar Pengundian Lucky Draw

Dia memperkirakan, pada tahun 2019, banyak perusahaan yang mulai menaikkan harga 3 hingga 5 persen tergantung dari seberapa besar komponen impor yang digunakan.

“Atau bahkan di akhir tahun ini sudah mulai ada kenaikan karena pengaruh Natal dan Tahun Baru,” ujar Adhi saat dihubungi oleh Beritagar.id, Rabu (7/11/2018).

Dia menjelaskan, opsi untuk menaikkan harga mungkin tidak akan dilakukan oleh semua produsen makanan dan minuman. Adapula perusahaan yang memilih untuk memangkas marjin atau pendapatan dibanding menaikkan harga.

Sebab, selain karena momentum melemahnya rupiah terjadi di akhir tahun, dia menilai situasi ekonomi Indonesia kurang kondusif.

“Apalagi untuk perusahaan yang tahun ini penjualannya terkoreksi karena perlambatan konsumsi,” ujarnya.

Asosiasi Peritel Indonesia (APRINDO) menilai tingkat konsumsi masyarakat mengalami tekanan pada pertengahan tahun terutama dipengaruhi oleh optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang cenderung menurun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2018 sebesar 5,17 persen. Lebih rendah dibandingkan kuartal II 2018 yang sebesar 5,27 persen year on year (yoy).

Mengutip data Survei Penjualan Eceran yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), penjualan ritel Indonesia melambat di bulan September 2018. Hal ini disebabkan adanya perlambatan angka penjualan peralatan informasi dan komunikasi, serta makanan dan minuman.

Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat tumbuh 4,8 persen yoy pada September 2018. Capaian itu melambat ketimbang bulan sebelumnya sebesar 6,1 persen yoy, namun masih mampu mengungguli capaian di periode yang sama tahun lalu sebesar 1,8 persen yoy.

Pada bulan Agustus 2018, penjualan ritel memang mampu tumbuh cukup tinggi didongkrak oleh konsumsi selama kegiatan Asian Games dan Hari Kemerdekaan Indonesia. Setelah momen itu terlewati, praktis tidak ada lagi yang mampu menopang penjualan ritel di September lalu.

Berdasarkan laporan BI, tercatat bahwa melambatnya kinerja penjualan ritel pada September 2018 bersumber antara lain dari kontraksi penjualan kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar minus 13,7 persen yoy, jatuh lebih dalam dari bulan sebelumnya yang tumbuh minus 13,2 persen.

Namun ekonom Universitas Indonesia (UI). Ari Kuncoro, melihat pelemahan penjualan eceran beberapa bulan terakhir sebagai siklus biasa. Menurutnya pada masa ini terjadi pergeseran jenis konsumsi.

Siklus ini terjadi menjelang hari libur. Menurutnya, masyarakat menahan pengeluaran mereka untuk mempersiapkan pengeluaran masa depan saat liburan di akhir tahun.

“Ini pergeseran jenis konsumsi dari barang ke jasa,” ujar Ari dalam Kontan.co.id.

Pelemahan konsumsi masyarakat terlihat dari angka penjualan yang dibukukan oleh perusahaan-perusahaan ritel.

Beberapa emiten ritel besar di Indonesia, hanya mampu membukukan pertumbuhan penjualan tipis atau di bawah 5 persen.

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) misalnya. Penjualan perseroan hanya naik 0,96 persen dari Rp31,2 triliun per September 2017 menjadi Rp31,5 triliun per September 2018.

Sementara itu, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencetak pertumbuhan penjualan hingga 3,1 persen menjadi Rp54,74 triliun per akhir September 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp53,12 triliun.

TINGGALKAN KOMENTAR